Rabu, 21 Agustus 2013

KELAS VIII KD 1. 2 Me­nang­gapi isi laporan



 L K B S
LEMBAR KEGIATAN BELAJAR SISWA
(KELAS VIII KD 1. 2 Me­nang­gapi isi laporan)


Pada Bab 2 kamu telah belajar menulis laporan perjalanan. Sudahkah kamu terampil menulis laporan perjalanan? Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan perjalanan adalah bersikap kritis terhadap laporan perjalanan. Misalnya dengan cara menanggapi laporan
perjalanan yang didengarkan.
Kata Kunci: Menanggapi – Memberikan Masukan
          Pada pembelajaran kali ini, kamu diajak menanggapi isi laporan perjalanan yang diceritakan oleh temanmu. Sekarang, coba kamu dengarkan dengan saksama dialog yang di dalamnya mengandung laporan perjalanan yang akan diperankan oleh teman-temanmu berikut ini!

Bagus     :    Ridwan, pernahkah kamu naik perahu nelayan?
Ridwan   :    Oh, pernah! Minggu kemarin aku berkunjung ke rumah pamanku yang tinggal di Ujungnegoro. Aku diajak paman naik perahunya. Bayangkan, Gus! Semalaman aku berada di lautan, bersama paman dan para nelayan yang lain.
Bagus     :    Hebat, hebat. Boleh, dong diceritakan perjalananmu.
Ridwan   :    Begini ceritanya, pulang sekolah bapak langsung mengajakku ke Ujungnegoro. Selepas Asar, kami sudah bersiap di perahu. Perahu paman cukup besar. Paman dan anak buahnya mengecek mesin dan peralatan menangkap ikan. Setelah semuanya beres, kami pun mulai berlayar.
         Satu jam kemudian kami sudah berada di laut lepas. Aku melihat berkeliling. Ratusan perahu nelayan yang lain ada di sekitar kami. Ribuan lampu yang dinyalakan berkelip-kelip seperti kunang kunang. Dan di sebelah timur sana . . . . Wow, menakjubkan sekali! Bulan mulai muncul. Seperti bola api raksasa, merah kekuningan.
         Tiba di kawasan yang ombaknya tenang, mesin kapal dimatikan. Daerah ini merupakan gudangnya ikan. Demikian kata Paman. Setelah salat, kami makan. Sehabis makan, para nelayan bersiap-siap untuk menangkap ikan. Jala pertama sudah dilemparkan ke laut. Setiap ujung tali jala dipegang oleh satu orang. Kemudian paman berteriak memberi aba-aba agar jala segera ditarik.
         Para nelayan mengikuti aba-aba paman. Jala ditarik. Berdebar-debar kami mengawasi hasil tangkapan pertama kami. Ratusan ikan menggelepar di bak perahu. Kami berteriak kegirangan. Paman mengucap syukur. Aku tidak menghitung berapa kali kami melempar jala di tempat itu. Lalu mesin kembali dihidupkan, kami akan mencari tempat lain yang lebih banyak ikannya.
         Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Wah, sudah hampir jam dua pagi! Aku pun tidur. Agaknya tidurku terlalu pulas. Waktu paman membangunkanku, kulihat hari mulai terang. Matahari mulai terbit di ufuk timur.
     Ternyata kami sudah dalam perjalanan menuju ke pantai. Para nelayan masih tertidur kelelahan. Aku melihat bak ikan yang hampir penuh. Aku heran kenapa paman tidak menangkap ikan sebanyak-banyaknya malam tadi.
     Menurut paman, hasil tangkapan hari ini sudah lebih dari cukup. Sebenarnya, bisa saja kita terus melempar jala dan tentu akan mendapatkan banyak ikan. Namun, kita tidak boleh serakah mengambil isi lautan. Hasil tangkapan hari ini merupakan rezeki yang diberikan oleh Allah. Begitulah yang kami lakukan sepanjang malam itu. Asyik sekali. Sayang ya, kamu tidak ikut.
Bagus     :    Ah, kamu sih, tidak mengajakku! Awas, lho, lain kali kamu harus mengajakku. Ceritamu tadi menarik sekali, tetapi sayang kamu tidak menceritakannya secara urut dan teliti. Kamu kelihatan terlalu bersemangat, Wan. Masih banyak hal yang terlewat dari ceritamu. Misalnya, kamu belum mengatakan berapa orang yang ada di kapal pamanmu itu, siapa saja mereka?
Ridwan   :    Oh, ya! Kami bertujuh. Aku, paman, bapakku, dan empat orang anak buah paman. Pamanku namanya Pak Hasan. Anak buah paman namanya Pak Sarmin, Pak Parman, Pak Trisno, dan yang satunya lagi Pak Winarno. Kami sempat berkenalan sebelum berangkat.
Bagus     :    Nah, gitu. Kalau bercerita itu jangan tergesa-gesa supaya orang lain dapat memahami isi ceritamu. Lalu, ikan apa saja yang ditangkap, Wan?
Ridwan   :    Sebagian besar ikan tongkol, cucut, ada juga kakap, cumi-cumi, dan ikan kecil-kecil yang banyak sekali. Sori, aku tidak hafal namanya.
Bagus     :    Mestinya kamu tanya pamanmu, kemudian catat nama-nama ikan itu. Lain kali bawalah buku catatan atau kamera, agar kamu dapat mencatat hal-hal penting dan merekam pemandangan indah yang kamu lihat dalam perjalananmu! Lalu, ikan-ikan itu diapakan, apakah langsung dijual? Di mana menjualnya?
Ridwan   :    Ya. Ikan-ikan itu dijual dengan cara dilelang di Tempat Pelelangan Ikan atau TPI.
Bagus     :    Oh, begitu! Senang sekali, ya, jadi nelayan itu. Mendengar ceritamu tadi, yang paling berkesan bagiku adalah kata-kata pamanmu, bahwa kita tidak boleh serakah mengambil hasil dari lautan. Kita memang tidak boleh mengeruk hasil lautan secara membabi buta. Apalagi merusak ekosistem laut. Aku pernah baca di koran, ada nelayan yang menggunakan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan. Hal semacam ini akan merugikan kita sendiri. Di samping mencemari laut, merusak kelestarian lingkungan, juga akan membunuh spesies lain yang ada di lautan. Kalau memancing atau menyeser masih lumayan, tidak akan merusak lingkungan.

(Sumber: Dokumen Pribadi)



          Dalam dialog tersebut, Ridwan melaporkan perjalanannya ketika ikut berlayar bersama pamannya. Sebagai pendengar, Bagus memberikan tanggapan berdasarkan isi laporan yang disampaikan oleh Ridwan. Bagaimanakah cara menanggapi laporan perjalanan secara lisan dengan baik seperti yang disampaikan oleh Bagus di atas? Perhatikan uraian berikut ini!

1.      Mengajukan Pertanyaan atau Pendapat
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanggapi laporan perjalanan. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan.

Perhatikan contoh pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
a.      Berapa orang yang ada di kapal pamanmu itu, siapa saja mereka?
b.      Ikan apa saja yang ditangkap, Wan?

Tanggapan juga dapat berupa pendapat. Pendapat merupakan hasil pemikiran kita berdasarkan masalah yang sedang dibicarakan.

Perhatikan contoh berikut ini!
Kita memang tidak boleh mengeruk hasil lautan secara membabi buta. Apalagi merusak ekosistem laut. Aku pernah baca di koran, ada nelayan yang menggunakan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan. Hal semacam ini akan merugikan kita sendiri. Di samping mencemari laut dan merusak kelestarian lingkungan, juga akan membunuh spesies lain yang ada di lautan.

2.      Memberikan Masukan terhadap Laporan Perjalanan Teman
Selain mengajukan pertanyaan dan pendapat, kita juga dapat memberikan masukan berdasarkan laporan perjalanan yang disampaikan oleh seorang teman. Masukan dapat berupa kritik dan saran.

Perhatikan contoh berikut ini!
a.      Ceritamu tadi menarik sekali, tetapi sayang kamu tidak menceritakannya secara urut dan teliti. Kamu kelihatan terlalu bersemangat, Wan. Masih banyak hal yang terlewat dari ceritamu.
b.      Kalau bercerita itu jangan tergesa-gesa supaya orang lain dapat memahami isi ceritamu. Ceritakan perjalananmu dengan urut agar aku mengetahui apa saja yang kamu lihat.


Tugas

1.      Tanggapilah laporan perjalanan temanmu yang telah dia buat dan dibacakan di depan kelas dengan mengajukan pertanyaan atau pendapat!
2.      Berikanlah masukan/ saran terhadap laporan perjalanan temanmu yang telah dia buat dan dibacakan di depan kelas!

1 komentar: